Telah berlalu masa saat pertemuan pertama...
Dan sepertinya,
Sudah lama pergi.
Entah dimana hari ketika menguntai ikatan pertemanan
Setahun…
Dua tahun…
Dan esok hari, entah masih bisa kah kita melewati tahun ke-3?
Waktu telah berkata banyak tentang kita kawan
Tengoklah, bahkan air dan api lebih baik dari kita berdua
Mungkin,
Mereka yang hanya melihat,
Mencemooh perasaanku
Tapi pernahkan kau intip luka menganga dalam hatimu
Dan pernahkah kau dibisikan sedikit saja keperihan yang tertanam begitu dalam di dalam hatiku?
Rasa dengki dan ego yang terhirup dari tubuhmu
Menjalar...
Merasuki serambi jiwaku
Yang kian lama,
Mengendap..
Lalu membusuk.
Ku kira dulu kau adalah tokoh protagonis
Seseorang yang menghantamku dengan kebencian
Dan aku adalah pemilik kisah di sisi lain harimu
Seseorang yang akan berakhir bahagia di akhir cerita
Yang diceritakan dengan kata-kata indah,
Memanjakan aura...
Tapi tadi malam,
Aku harus berlari dalam mimpi
Dan berharap tak terlelap hari ini
Dalam renungan yang semakin nyata
dan melahap semua keberanianku
Ada secercah titik hitam
Yang semakin besar ketika aku menjauh
Aku yang selalu mencoba untuk mengerti,
saat ini sudah berpaling
Aku yang dulu merasa terkhianati kata-katamu,
saat ini bergerak mundur dan bersembunyi
Ku buka lagi lembaran-lembaran ingatan yang berserakan
Tertoreh di sana sebuah cerita
Cerita dari benak seorang teman,
teman yang membuangmu kawan
Menyisihkanmu...
Dengan kata-kata dusta...
Maaf,
Maaf,
Maaf,
Maaf.
Bukankah sesuatu yang baik selalu punya caranya sendiri untuk menyakiti?

0 komentar:
Posting Komentar